PENDAHULUAN
Misi utama Rasulullah
membawa risalah Islam adalah untuk menebarkan kasih sayang bagi semesta alam (rahmatan
lil 'alamin). Karena itu peradaban Islam model Madinah yang dibangunnya
tidak lepas dari misi tersebut, yakni peradaban rahmatan lil 'alamin.
Peradaban seringkali
dikonotasikan dengan sebuah kota dengan bangunan-bangunan megah dan indah,
teknologinya maju dan kebudayan masyarakatnya yang tinggi. Pandangan seperti
itu sesungguhnya merupakan refleksi dari pengaruh filsafat materialisme yang
begitu mempengaruhi ilmuwan kita. Peradaban Islam, sesungguhnya dapat dirunut
dari asal kata "adab". Dalam kitab Mu'jam al Washit disebutkan
adduba dan taaddaba, yang artinya mendidik seseorang dengan
akhlaq yang baik.
Orang berilmu, halus tutur
katanya, berkesustraan tinggi, berakhlaq mulia disebut sebagai adib
(orang yang beradab). Sebaliknya orang yang kasar, tidak memiliki sopan santun,
tidak berperikemanusiaan disebut qaliil-ul-adab (orang yang kurang adab
atau tidak beradab).
Dengan demikian peradaban
Islam merupakan peradaban yang berakar pada nilai-nilai tauhid, dengan manusia
yang beriman serta berakhlak mulia sebagai wujudnya. Adapun contoh manusia
Mukmin yang paling beradab itu adalah Muhammad Rasulullah Shallaallahu
'alaihi wa sallam dan puncak peradaban Islam itu adalah saat Rasulullah
berhasil meletakkan prinsip-prinsipnya sekaligus mempraktekkan di dalam
masyarakat Madinah.
Gambaran masyarakat madani
yang dilakukan oleh Nabi Muhammad dan para sahabatnya seperti penggalangan dana
melalui zakat, infaq dan sedekah sekaligus pembangunan baitul mal merupakan
bukti antusiasnya mereka untuk memberdayakan masyarakatnya demikian juga
memerdekakan para budak dan membantu orang-orang yang susah dan banyak lagi
contoh-contoh lainnya.
Pernyataan Nabi Muhammad yang menampik
kriteria taqwa yang siajukan oleh para sahabat seperti seseorang yang hanya
shalat saja di masjid, seseorang yang terus-menerus melakukan puasa dan
seseorang yang tidak mau menikah karena takut terganggu ibadahnya kepada Tuhan
mencerminkan bahwa masyarakat madani bukanlah masyarakat yang hanya sibuk
mengurusi hubungannya dengan Tuhan akan tetapi menyeimbangkan kesibukannya
dengan mengurusi hubungan kemanusiaan. Bahkan Nabi Muhammad menunjuk dirinya
sendiri sebagai orang yang paling taqwa namun dia shalat, puasa dan menikah
tapi tidak lupa mengurusi persoalan umat.
Nabi Muhammad patut dijadikan
sebagai referensi karena telah berhasil meletakkan dasar-dasar pembangunan
masyarakat madani. Dasar-dasar yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ini tentu saja
mengacu kepada skala prioritas sehingga terkesan bahwa kebijakannya tidak
tumpang tindih.
Bangunan masyarakat madani
yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ialah dengan menyelaraskan konsep ketuhanan
dengan konsep kemanusiaan. Keduanya dilakukan secara seimbang sehingga antara
satu dengan lainnya saling mempengaruhi dan menimbulkan satu kekuatan yang amat
dahsyat.
MEMBANGUN PERADABAN MASYARAKAT
MADANI
A. Peradaban
Masyarakat Madani
Dalam bahasa Arab, kata al-hadharah
(peradaban) memiliki antonim al-badawah (badwi). Kemudian kata al-hadirah
(kota) berantonim dengan al-badiyah (desa). Sedangkan kata al-hadar
(orang kota) antonim dengan al-badw (orang badwi, kaum nomaden di
padang pasir).
Orang Badwi dikenal
bersikap keras, kasar dan kaku serta bodoh. Mereka tidak berpendidikan dan
tidak bisa baca tulis. Pada umumnya mereka tidak tinggal menetap di suatu
daerah, melainkan berpindah-pindah (nomaden) dari satu daerah ke daerah lain.
Karena itu rumah-rumah mereka hanay berupa kemah-kemah yang mudah dibawa.
Berkait dengan ini, tak
seorang Rasul pun yang berasal dari kalangan Badwi. Semua Rasulullah berasal
dari masyarakat kota. Allah berfirman:
!$tBur $uZù=y™ö‘r& `ÏB šÎ=ö6s% žwÎ) Zw%y`Í‘ ûÓÇrqœR NÍköŽs9Î) ô`ÏiB È@÷dr& #“tà)ø9$# 3
óOn=sùr& (#rçŽÅ¡o„ †Îû ÇÚö‘F{$# (#rãÝàZuŠsù y#ø‹x. šc%x. èpt7É)»tã tûïÏ%©!$# `ÏB óOÎgÏ=ö7s% 3
â‘#t$s!ur ÍotÅzFy$# ׎öyz šúïÏ%©#Ïj9 (#öqs)¨?$# 3
Ÿxsùr& tbqè=É)÷ès?
“Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang
laki-laki yang kami berikan wahyu kepadanya diantara penduduk negeri. Maka
Tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan
orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul) dan Sesungguhnya kampung
akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka Tidakkah kamu
memikirkannya?” (Yusuf: 109)
Mengapa
Allah hanya mengutus para Rasul-Nya dari kalangan kota? Beberapa ahli tafsir
memberi argumentasi, diantaranya adalah Imam Ibn Zaid, karena penduduk kota itu
orangnya lebih berpendidikan dan lebih sopan daripada penduduk badwi. Al Quran
sendiri memberi kesan negatif terhadap mereka. Allah berfirman:
Ü>#{ôãF{$# ‘‰x©r& #\øÿà2 $]%$xÿÏRur â‘y‰ô_r&ur žwr& (#qßJn=÷ètƒ yŠr߉ãn !$tB tAt“Rr& ª!$# 4’n?tã ¾Ï&Î!qß™u‘ 3
ª!$#ur íOŠÎ=tæ ×LìÅ3ym
“Orang-orang Arab Badwi itu, lebih sangat kekafiran
dan kemunafikannya, dan lebih wajar tidak mengetahui hukum-hukum yang
diturunkan Allah kepada Rasul-Nya. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha
Bijaksana.” (At Taubah: 97)
Meskipun
demikian, Al Quran masih memberi sedikit ruang bahwa di antara penduduk Badwi
itu terdapat orang-orang yang beriman. Al Quran menegaskan:
šÆÏBur É>#tôãF{$# `tB ÚÆÏB÷sム«!$$Î/ ÏQöqu‹ø9$#ur ÌÅzFy$# ä‹Ï‚Gtƒur $tB ß,ÏÿZムBM»t/ãè% y‰YÏã «!$# ÏNºuqn=|¹ur ÉAqß™§9$# 4
Iwr& $pk¨XÎ) ×pt/öè% öNçl°; 4
ÞOßgè=Åzô‰ã‹y™ ª!$# ’Îû ÿ¾ÏmÏFuH÷qu‘ 3
¨bÎ) ©!$# Ö‘qàÿxî ×LìÏm§‘
“Di antara orang-orang Arab Badwi itu ada orang yang
beriman kepada Allah dan hari Kemudian, dan memandang apa yang dinafkahkannya
(di jalan Allah) itu, sebagai jalan untuk mendekatkannya kepada Allah dan
sebagai jalan untuk memperoleh doa rasul. Ketahuilah, Sesungguhnya nafkah itu
adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). kelak
Allah akan memasukan mereka kedalam rahmat (surga)Nya; Sesungguhnya Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.” (At Taubah: 99)
Semua
telah sepakat bahwa Islam adalah agama yang membawa risalah peradaban untuk
meningkatkan kehidupan manusia dan mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada
cahaya, mengubah sifat keras dan bodoh menjadi berdisiplin dan beradab. Islam
mendorong penguikutnya untuk maju secara materi, keilmuan, sosial, pendidikan,
dan moral.
Hijrahnya
Rasulullah SAW bersama para sahabat ke Madinah, selain karena alasan strategis,
tujuan pokoknya adalah berkebudayaan. Di tanah yang baru itu mereka diwajibkan
untuk menjalankan shalat Jumat dan shalat berjamaah, di sana pula mereka
dibiasakan untuk menghadiri majlis-majlis ilmu. Dengan media pembelajaran
seperti itu secara bertahap perilaku mereka menjadi lebih beradab dan
berbudaya.
Madinah
dijadikan Rasulullah sebagai model atau prototipe masyarakat berperadaban Islam
dan masjid Nabawi sebagai pusatnya. Lewat masjid beliau membangun kultur
masyarakat baru yang dinamis, progresif dan mempunyai visi jauh ke depan. Lewat
keteladanan dan khutbah-khutbanya, setiap hari beliau mengubah masyarakatnya
dari pemahaman yang semu kepada pemahaman yang luas dan mendalam tentang
kehidupan, dari pemikiran yang jumud (beku), keruh, dan kotor kepada
pemikiran kritis, bebas, dan mandiri, dari pemikiran mistisdan takhayul kepada
pemikiran ilmiah yang menuntut pembuktian, logika, dan akal sehat, dari
pemikiran fanatik kepada pemikiran terbuka dan lebih toleran.
Madinah
saat itu benar-benar merupakan,enjadi mercusuar peradaban Islam. Itulah
sebanya, kota Madinah berjuluk Al-Madinah Al-Munawarah, kota
yang memancarkan cahaya (peradaban unggul). Dari kota ini cahaya kebenaran
Islam dipancarkan ke seluruh dunia sampai terbukti bahwa Islam adalah rahmat
bagi seluruh alam.
uqèd “Ï%©!$# y]yèt/ ’Îû z`¿Íh‹ÏiBW{$# Zwqß™u‘ öNåk÷]ÏiB (#qè=÷Ftƒ öNÍköŽn=tã ¾ÏmÏG»tƒ#uä öNÍkŽÏj.t“ãƒur ãNßgßJÏk=yèãƒur |=»tGÅ3ø9$# spyJõ3Ïtø:$#ur bÎ)ur (#qçR%x. `ÏB ã@ö6s% ’Å"s9 9@»n=|Ê &ûüÎ7•B
“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf
seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka,
mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah). dan
Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Al
Jumuah: 2)
B. Kiat Rasulullah Membangun Masyarakat Madani
Langkah yang pertama sekali
dilakukan oleh Nabi Muhammad dalam membangun masyarakat madani ialah melalui
penanaman aqidah. Penanaman aqidah ini dimulai dari konsep memperkenalkan Tuhan
baik esensi maupun eksistensi-Nya (al-ma'rifah) yang kemudian bergerak
maju untuk mencintai-Nya (al-mahabbah). Ketika para sahabat sudah
mengenal Tuhan dan mencintai-Nya dengan baik maka timbul hasrat untuk
mengabdikan diri kepada Zat yang dicintai-Nya sehingga melalui pengabdian ini
tidak ada yang merasa keberatan untuk melakukan perintah dan meninggalkan
larangan-Nya.
Melalui penanaman aqidah
dengan segala tahapan-tahapannya maka para sahabat memiliki kemampuan yang luar
biasa untuk menginternalisasi sifat-sifat Tuhan. Kemampuan internalisasi ini
akhirnya menimbulkan perpaduan sikap yaitu moral dan motivasi yang dapat
menciptakan hubungan yang harmonis baik secara vertikal maupun horizontal.
Dengan demikian maka aqidah dalam konteks ini adalah aqidah yang sifatnya
melangit dan aqidah yang sifatnya membumi.
Adapun yang dimaksud dengan
aqidah yang melangit ialah mengenal akan esensi dan eksistensi Tuhan sehingga
manusia memiliki kemampuan untuk menginternalisasi sifat-sifat Tuhan. Dan
adapun yang dimaksud dengan aqidah yang membumi ialah menjewantahkan hubungan
yang harmonis dengan Tuhan kepada sesama makhluk di muka bumi. Aqidah yang baik
ialah adanya keselarasan antara hubungan baik dengan Tuhan dan hubungan baik
dengan manusia dan oleh karena itu aqidah langit adalah sebagai sumber kontrol
sedangkan aqidah bumi sumber motivasi.
Sebagai sumber kontrol dan
sumber motivasi maka Nabi Muhammad sangat gencar mensosialisasikan aqidah
karena diyakini sangat menentukan kemajuan budaya dan peradaban masyarakat. Hal
ini terbukti dari keberhasilan Nabi Muhammad memobilisasi kemajuan
masyarakatnya sehingga menjadi referensi bagi masyarakat lain dalam berbagai
aspek. Bahkan tatanan masyarakat madani yang dinapaktilasi oleh Nabi Muhammad
tetap melembaga dan bahkan semakin berkembang beberapa abad yang mencapai masa
keemasannya pada masa pemerintahan khalifah Harun al-Rasyid dari dinasti
Abbasiyah.
Upaya yang tidak kalah
pentingnya dilakukan oleh Nabi Muhammad dalam menciptakan masyarakat yang
madani ialah melalui motivasi ibadah. Ibadah yang dimaksud dalam konteks ini
tidak hanya terfokus kepada ibadah mahdhah (ibadah yang hanya berkaitan
dengan pengabdian kepada Tuhan) akan tetapi lebih didominasi oleh ibadah ghairu
mahdhah (ibadah yang bernuansa kemanusiaan). Statementnya yang menyatakan
bahwa setiap aktifitas yang mengatasnamakan nama Tuhan adalah ibadah dapat
dijadikan sebagai argumen bahwa ibadah yang bernuansa kemanusiaan memiliki
peran yang cukup besar dalam menciptakan masyarakat madani.
Terdapatnya beberapa kata
kerja aktif yang digunakan al-Qur'an dalam menyebutkan ibadah menunjukkan bahwa
ibadah tidak hanya sebatas kepuasan batin akan tetapi lebih jauh lagi
terimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan kata lain bahwa
tingkat keberhasilan suatu ibadah apabila dapat menampung persoalan umat dan
hal ini dapat dijumpai dari tujuan akhir masing-masing ibadah seperti shalat,
puasa dan lain-lain. Ibadah dalam wacana ini adalah ibadah yang disesuaikan
melalui konsep ketuhanan dan konsep kemanusiaan.
Artinya bila suatu persoalan
berkaitan dengan kemanusiaan maka hadapilah persoalan ini melalui ibadah
kemanusiaan bukan dengan ibadah ketuhanan. Ketika manusia mendapat musibah di
tempat lain seperti kejadian gempa dan tsunami di Aceh dan di Nias kemudian
masyarakat di daerah lain menyambutnya dengan zikir, tabligh dan doa sama
sekali tidak memiliki urgensi yang signifikan. Oleh karena itu musibah dalam
konteks ini harus disahuti dengan ibadah kemanusiaan yaitu dengan memberikan
bantuan material, moral dan kesehatan.
Ibadah yang bernuansa
ketuhanan dan ibadah yang bernuansa kemanusiaan selalu di salah gunakan dalam
konteks kehidupan. Penyalah gunaan ini selalu kita dapati ketika seseorang
melakukan ibadah di tempat sunyi dan menjauh dari kehidupan sosial dengan
alasan bahwa dengan melakukan ini maka yang bersangkutan telah mendapatkan
ketenangan batin. Persefsi yang seperti ini terkesan keliru karena hanya
mencari kepuasan pribadi sementara kehidupan masyarakat tidak tersentuh dan
terkesan membiarkan mereka abadi di dalam keterpurukan.
Agaknya bukan seperti ini ciri
masyarakat madani yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad karena mereka terus
bergerak menata kehidupan sosial yang baik sehingga banyak di kalangan mereka
yang dulunya berasal dari ekonomi lemah kemudian menjadi kaya. Perhatian para
sahabat kepada anak-anak yatim, janda-janda dan orang-orang miskin inilah
sebenarnya gambaran dari masyarakat madani. Mereka tidak pernah merasa puas
dengan melakukan ibadah kepada Tuhan selama mereka masih mendapatkan suadaranya
dalam kesusahan.
Nampaknya agak kontras dengan
kehidupan sekarang dimana seseorang mampu dan tega melaksanakan ibadah haji
puluhan kali sementara saudaranya sendiri masih perlu mendapatkan bantuan atau
kita disibukkan membangun menara masjid yang indah sementara tatanan kehidupan
masyarakat kita biarkan hancur berderai. Artinya, tauhid langit kita sudah
cukup baik namun dari segi tauhid bumi masih perlu pembenahan-pembenahan
sehingga keduanya berjalan secara sinergik.
C. Model Masyarakat Madani
Tidak mudah mendefinisikan
apakah itu model masyarakat Madani. Namun ilustrasi berikut ini dapat
menggambarkan nilai-nilai luhur sebuah peradaban yang dibangun empat belas abad
silam. Kita bisa melihat gambaran masyarakat madani pada peradaban masyarakat Madinah
jaman Rasulullah yang merupakan pondasi dari peradaban masyarakat madani.
1. Persamaan Harkat Kemanusiaan
Masyarakat Madinah adalah
masyarakat bertauhid, yakni masyarakat yang menjadikan ajaran Allah SWT sebagai
satu-satunya acuan nilai dalam interaksi sosialnya, sehingga seseorang akan
berlaku sama saat berinteraksi dengan seorang pemimpim maupun dengan seorang
rakyat biasa.
Kesetaraan dalam hak dan
kewajiban di antara seluruh anggota masyarakat terlindungi dengan baik sehingga
seseorang akan merasakan penghargaan yang tinggi dan proporsional di
tengah-tengah lingkungannya. Orang modern mengatakannya sebagai masyarakat
"egaliter", meski sebenarnyaistilah tersebut tidak terlalu
tepat bagi masyarakat madinah, karena ke-egaliter-an masyarakat modern lebih
didasari oleh humanisme sekuler, sedangkan fenomena-fenomena masyarakat Madinah
bertumpu di atas pemahaman akan nilai-nilai tauhid.
2. Supremasi Hukum
Salah satu ciri masyarakat
berperadaban unggul adalah tegaknya supremasi hukum. Siapapun yang bersalah
dikenakan hukuman, tidak peduli dia pejabat negara atau rakyat jelata,
bangsawan atau budak, laki-laki atau perempuan. Semuanya diperlakukan sama.
Sebaliknya, siapapun yang benar wajib dibela, meski budak hitam tua renta.
3. Bukan Masyarakat Malaikat
Kesalah pahaman sering
terjadi tatkala seseorang membayangkan masyarakat madani sebagai masyarakat
yang homogen seratus persen meniadakan sifatnya sebagai masyarakat manusia.
Pada kenyataannya masyarakat Madinah adalah masyarakat yang majemuk (plural). Status
sosial ekonomi masyarakat Madinah juga beragam. Di Madinah hidup anggota
masyarakat yang beragama Yahudi dan Nasrani yang terikat perjanjian damai
dengan mereka.
Dinamika yang terjadi pada
masyarakat Madinah saat itu adalah hal yang sewajarnya sebagai manusia. Mereka
bukan masyarakat malaikat. Yang penting
sistem syariah ditegakkan, sehingga kalau terjadi penyimpangan bisa
diminimalkan.
4. Berfikir Global Bertindak Lokal
Sejarah memperlihatkan
kehidupan kaum Muslimin melompat tinggi dari satu sisi tetapi mengalami
dekadensi pada sisi lain. Kekhalifahan pada masa khalifah yang empat (khulafaur-rasyidin)
dipegang dengan benar-benar mengacu kepada sistem yang diajarkan Rasulullah SAW
(khilafah ‘ala minhaji nubuwwah) mengalami pergeseran sedikit demi sedikit.
Memang berat jalan yang
harus ditempuh untuk mewujudkan peradaban Islam pada tingkat dunia. Karena itu,
ada baiknya kita sesuaikan saja dulu dengan kemampuan kita, dengan cara
berfikir global tetapi bertindak lokal. Cita-cita mewujudkan peradaban Islam
pada tingkat dunia biar terus bersemayam di benak kita. Tapi langkah konkrit
untuk mewujudkannya biar kita mulai dari diri kita, keluarga kita dan
sahabat-sahabat kita.
Ciri
lain dari masyarakat madani adalah kuatnya ikatan persaudaraan sehingga
tercipta loyalitas yang sangat tinggi. Hal ini sudah dipraktekkan oleh Nabi
Muhammad dengan mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dengan kaum Anshar.
Statement yang menyebutkan bahwa semua manusia adalah sama kecuali di bidang
ketaqwaan menggambarkan arti persaudaraan yang sesungguhnya. Begitu juga
ketegasan terhadap kekafiran dan saling membagi kasih kepada sesama mukmin
dapat dikategorikan sebagai salah satu ciri dari masyarakat yang madani.
D. Membentuk Masyarakat Madani
Peradaban yang kita bangun
agar sesuai dengan ciri-ciri pokok peradaban Madinah harus menempuh langkah
strategis yang terbagi atas apek non-material dan aspek material.
1. Aspek Non Material
Secara nonmaterial
langkah-langkah membangun peradaban Madinah terdiri dari:
a.
Menyiapkan individu-individu Rabbani, yakni
dengan membangun individu muslim yang memiliki kekuatan akidah, kekuatan akhlak
dan kekuatan ilmu. caranya dengan menyemarakkan dan mengintensifkan gerakan
pembinaan umat, baik secara informal melalui mimbar-mimbar dakwah, forum-forum
halaqah, dan medan-medan pengkaderan lainnya, maupun secara formal dengan
memperbanyak sekolah-sekolah unggulan dan lembaga-lembaga pendidikan bermutu
dari tingkat prasekolah sampai tingkat doktoral.
b.
Menyiapkan pemimpin-pemimpin Rabbani, yakni
pemimpin-pemimpin muslim yang menghambakan dirinya hanya untuk Allah dan telah
menginfakkan hidupnya hanya untuk berjuang memikirkan dakwah dan umat.
c.
Memerangi berbagai penyebab perpecahan yang merupakan
penyebab utama kehancuran umat. Sebab, kaum Muslimin tidak akan dihancurkan
musuh-musuhnya kalau bersatu padu. Setiap muslim harus berpegang teguh dengan
prinsip-prinsip persatuan, karena berukhuwah merupakan tuntutan keimanan yang
wajib mereka laksanakan.
2. Aspek Material
Sedangkan secara material,
langkah-langkah yang harus ditempuh adalah:
a.
Mempersiapkan para ahli dan peneliti dalam bidang
keilmuan serta mendirikan pusat-pusat penelitian di kalangan umat Islam.
b.
Penyusunan blue print gerakan dakwah untuk masa
yang akan datang.
c.
Penguasaan aspek ekonomi dan politik. Ini sangat
penting karena keduanya merupakan sendi kehidupan dan peradaban.
d.
Penguasaan aspek informasi. Di era globalisasi ini,
informasi telah menjadi seperti panglima dalam segala hal. Siapa yang menguasai
informasi maka ia akan menguasai dunia. Kelemahan kita di bidang ini sangat
memilukan.
e.
Penguasaan aspek pertahanan dan keamanan. Ketentraman
dan keamanan adalah sendi kehidupan masyarakat yang maju. Tanpa keamanan kita
tidak akan mampu membangun suatu peradaban apapun.
Setelah peradaban yang
kita bangun terbentuk langkah selanjutnya adalah mengevaluasi apakah suatu
peradaban yang telah dibangun benar-benar merupakan peradaban Islam. Berikut
adalah panduan untuk mengetahui dan mengevaluasinya:
1.
Peradaban itu dibangun atas landasan penghambaan
kepada Allah, tunduk kepada syariat-Nya dan memandang dunia dengan pandangan
yang integral dan menyeluruh.
2.
Peradaban Islam memfokuskan pembangunannya sesuai
dengan kesatuan jiwa, rohani, fikiran dan perasaan tanpa adanya pemisahan satu
sama lainnya.
3.
Seluruh unsur peradaban hendaknya mengarah kepada
penyerahan diri kepada Allah semata. Tiada suatu aktivitas pun dalam peradaban
Islam kecuali bertujuan mencari ridha Allah.
4.
Meyakini bahwa sesungguhnya Allah sajalah yang
memberikan aturan hidup dan hukum alam. Juga Allah jualah yang mengatur rahasia
berdirinya berbagai peradaban, bangunnya suatu umat, dan kehancurannya.
5.
Seorang Muslim bisa mengambil sarana dan manajemen
dari budaya lain, tetapi tidak boleh mengambil sistem kehidupan.
6.
Setiap insan dalam peradaban Islam meyakini tanggungjawab
individual, komitmen moral, hari kebangkitan, hari pembalasan dan membangun
masyarakat atas dasar prinsip ini.
7.
Ilmu dan teknologi adalah wasilah untuk membangun
masyarakat yang terpuji yang beridir di atas nilai-nilai Islam.
KESIMPULAN
Pembangunan masyarakat madani
yang dilakukan oleh Nabi Muhammad adalah menciptakan keserasian, kesinergikan,
keseimbangan antara tauhid langit dengan tauhid bumi. Dengan demikian
masyarakat madani adalah masyarakat yang memiliki pengabdian yang tinggi kepada
Tuhan dan sekaligus memiliki kepekaan dan kepedulian sosial yang tinggi.
Melalui kedua hal ini akan terciptalah kehidupan sosial yang harmonis sehingga
keberadaan masyarakat merupakan satu kesatuan yang sangat utuh.
Rasulullah datang membawa
Islam untuk mengatasi peradaban manusia yang rusak. Sejak awal dilantiknya Muhammad
sebagai nabi dan rasul, beliau telah memberikan gambaran tentang visi Islam
yang hendak diwujudkannya.
Pidato terakhir yang
disampaikan oleh Rasulullah di Arafah pada haji wada’ sesungguhnya
merupakan pesan penting Rasulullah tentang prototipe peradaban Islam dan pilar-pilarnya telah beliau
letakkan dan harusa dikembangkan oleh umat islam selanjutnya. Pidato pamungkas
Rasulullah tersebut memberikan pilar-pilar penting tegaknya peradaban Islam,
yaitu:
- Penghapusan pertumpahan darah.
- Penghapusan sistem ekonomi riba yang telah
menimbulkan kesengsaraan bagi masyarakat.
- Penghormatan terhadap kaum wanita, dengan
menempatkan mereka di tempat yang terhormat dan menunaikan hak-hak mereka
sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Allah.
- Pentingnya berpegang teguh kepada hukum Allah
yang bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW.
- Penegasan bahwa tidak ada lagi nabi setelah
Beliau.
- Kewajiban untuk menunaikan hak-hak Allah dalam
ubudiyah, seperti shalat,
zakat, puasa dan haji.
- Penegasan pentingnya kedisiplinan dalam
menaati pemimpin yang menaati Allah dan rasul-Nya.
Kiranya
nilai-nilai luhur yang telah diletakkan dan dicontohkan secara baik oleh
Rasulullah itulah yang seharusnya kembali ditegakkan dan dibuktikan oleh umat
Islam hari ini dalam kehidupan secara nyata.
Sudah
barang tentu untuk mewujudkannya kembali memerlukan sebuah proses yang panjang
dengan tahapn-tahapan yang sistematis, seperti yang pernah diaplikasikan dalam
sejarah kehidupan beliau. Semoga kita diberi kemampuan oleh Allah untuk
merumuskan kembali serta istiqamah merealisasikannya.
Cape abis ngerjain makalah, enaknya nonton video yang lucu ini gan
by: Tantowi Azizi Sahoed